132 Kisah Taubat

132 kisah taubat
132 Kisah Taubat
Kitab Asal: Kitab at-Tawwabin
Oleh: Ibnu Qudamah al-Maqdisiy
Keluaran: Mitra Pustaka
Halaman: 601 mukasurat

Salam..

Buku 132 Kisah Taubat ini mengesahkan orang-orang yang bertaubat, tepatnya sejak Nabi Adam a.s sehingga masa pengarang hidup, iaitu awal abad ke 7 H. Pengarang menyajikan kisah-kisah ini dengan cara yang mudah. Ditampilkan cerita dengan ungkapan yang memikat serta dengan pilihan kata yang menyentuh kalbu.

Pembukaan Taubat adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah dan meninggalkan jalan orang-orang yang dimurkai dan disesatkan oleh Allah swt. Hal itu tidak akan berhasil dilakukan oleh seorang hamba kecuali dengan hidayah (petunjuk) Allah swt yang membimbingnya ke jalan yang lurus (shirathal mustaqim). Sedangkan hidayah tidak akan dapat diperolehi oleh seseorang kecuali dengan memohon pertolongan-Nya dan dengan cara meng-Esakan-Nya (Tauhid). Tidaklah benar2 bertaubat kecuali setelah sesorang mengetahui dosa-dosanya, mengakuinya dan berusaha membersihkan perbuatan dosanya dari awal sampai akhir.

Taubat Ibrahim bin Adham.

Aku mendengar Ibrahim bin Basyar (Pelayan Ibrahim bin Adham) ia berkata:
Aku bertanya kepada Ibrahim bin Adham: “Hai Abu Ishaq, bagaimana permulaan kau bertaubat ?”.

Ibrahim bin Adham menjawab: “Ayahku berasal dari Balkh. Ia adalah Raja di Khurasan. Pada suatu hari, ada sesuatu yang ingin kami buru, maka aku berangkat dengan mengendarai kuda dan membawa serta anjingku.

Ketika aku sedang berjalan, seekor arnab dan serigala melompat, maka aku arahkan kudaku. Tiba-tiba terdengar suara dari belakangku yang memanggil: “Bukan untuk itu kau diciptakan dan bukan untuk itu pula kau diperintahkan !”.

Aku berhenti, menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tak terlihat seseorangpun, maka kukatakan: “Semoga Allah melaknat Iblis itu !”

Kemudian aku gerakkan kudaku, namun aku mendengar suara yang lebih jelas dari yang tadi: “Wahai Ibrahim, bukan untuk itu kau diciptakan dan bukan untuk itu kau diperintahkan !”

Aku pun berhenti, menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tidak ada seorangpun, maka kukatakan: “Semoga Allah melaknat Iblis itu !”

Kemudian aku gerakkan kudaku, namun tiba-tiba aku mendengar suara dari arah pelana kudaku: “Wahai Ibrahim, bukan untuk itu kau diciptakan dan bukan untuk itu kau diperintahkan !”

Aku pun kembali pulang dan mendatangi salah seorang penasihat Ayahku. Aku meminta sebuah jubah dan kain lalu ku lemparkan bajuku padanya. Aku bekerja untuk beberapa hari, namun pekerjaan itu kurang berkah.

Aku bertanya kepada salah seorang Syeikh, lalu ia mengarahkanku agar aku menuju ke Syam, kalau ingin mendapatkan pekerjaan yang halal dan berkah. Pergilah aku ke Syam, ke sebuah kota yang bernama Manshurah atau Mashishah. Aku pun mulai bekerja di sana, namun tak ku dapatkan rezeki yang halal.

Kemudian aku bertanya kepada beberapa orang Syeikh, mereka berkata: “Jika kamu menginginkan rezeki yang halal, maka pergilah ke Thurtus, kerana di sana banyak pekerjaan yang halal.”

Aku pun pergi ke Thurtus dan bekerja di sana sebagai mandur perkebunan. Ketika aku duduk di tepi pantai, datanglah seorang laki-laki yang mengajakku untuk melihat perkebunannya. Aku tinggal di sana beberapa hari dan bertemu beberapa pengelola kebun itu.

Pengelola kebun itu berteriak: “Wahai Natur !”
Aku menjawab: “Ini aku !”

Dia berkata: “Pergilah kau dan petiklah beberapa buah delima yang paling besar dan paling bagus.”

Aku pun pergi dan membawa buah itu. Ia pun segera mengambil dan membelahnya lalu dirasakannya. Ternyata buah itu masam. Lalu ia berkata: “Wahai Natur, engkau berada di kebun kami sebagaimana delima ini. Tapi kenapa engkau tak dapat membezakan mana yang manis dan mana yang masam ?”

Aku menjawab: “Demi Allah, aku tak pernah makan sedikit pun dari buah-buahan ini.”

Kemudian pengelola kebun itu memberi isyarat kepada teman-temannya dan berkata: “Apakah kalian mendengar perkataannya ?. Apakah kalian melihat kalau Ibrahim bin Adham berbuat semacam itu ?“.

Pengelola kebun itu pergi dan keesokan harinya ia menceritakan sifatku di masjid hingga beberapa orang mengetahui sifatku. Kemudian ia datang bersama beberapa orang. Ketika mereka masuk masjid, aku keluar melarikan diri tanpa seorang pun yang mengetahuinya. Ini permulaan aku keluar dari Thurtus ke negeri yang penuh padang pasir.

Akhir kata sebuah kitab yg sgt3 baik.. MySpace

Tiada Respons to “132 Kisah Taubat”

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: