Gulistan

Gulistan
Gulistan
Oleh: Syeikh Musliuddin Sa’di Shirazi
Keluaran: Navila
Halaman: 316 mukasurat

Salam..

Ketika membacanya, seolah-olah kita memasuki pintu-pintu yang membuatkan iman dan cinta kembali hidup. Menurut penulisnya, hanya melalui jalan cinta dan iman seseorang dapat memetik hikmah tertinggi yang dengan itu seseorang memperoleh pencerahan dan penyaksian luasnya kasih sayang Allah swt.

Sedang aku khusyuk beribadah pada waktu tengah malam, airmata berlinang menyesali hidup yang telah kusia-siakan. Sambil berusaha mengikis hatiku yang membatu. Lebih baik aku menyakini apa yang akan diucapkan, daripada harus mengulangi apa yang telah aku katakan.

Singkatnya, aku tidak dapat menahan lidahku untuk tidak berbicara dengannya. Aku yakin, memalingkan wajah pada saat berbicara, adalah tindakan yang tidak baik. Apa lagi dia adalah teman yang sangat menyenangkan.

Saat engkau berkelahi dengan seseorang
Pertimbangkanlah, apakah engkau meninggalkannya
Atau dia yang meninggalkanmu.

Saat pagi hari, temanku mengisi ke dalam jubahnya dengan berbagai macam bunga, seperti bunga sepatu, bakung dan rerumputan segar untuk dibawa ke kota. Aku berkata kepadanya, “Engkau tahu bunga-bunga di taman itu akan mati dan musim akan sering berganti.” Bak kata ahli falsafah, “Apa saja yang tidak abadi, tidak akan dihargai.”

Temanku kemudian menanyakan, “Lalu apa yang harus kulakukan ?”

“Aku akan menulis buku untuk menghibur orang yang membacanya, dan sebagai pedoman pada siapa yang menginginkan Taman Bunga, “Gulistan”, yang daunnya tidak dapat disentuh oleh kesewenang-wenangan pergantian musim, dan kecemerlangan sinarnya abadi, tidak mampu diubah oleh musim gugur. Apa gunanya seikat bunga untukmu? Ambillah sehelai daun dari “Taman Bungaku”.

Setelah mendengarkan kata-kataku, dia membuang bunga-bunga itu dari jubahnya, dan berlari menujuku sambil berkata, “Saat seorang teman yang baik hati berjanji, dia akan selalu menepati kata-katanya”.

Pada hari itu juga aku langsung menulis dua bab,  dengan judul kesopanan dalam masyarakat dan adab berbicara. Singkatnya, beberapa bunga-bunga di taman masih ada, saat buku Taman Bunga diselesaikan. Bacalah dengan teliti dan hati yang terbuka. Diharapkan buku ini dapat menghibur dan tidak membosankan, kerana Taman Bunga adalah tempat yang menyenangkan.

Buku ini merupakan buku sastra persia yang sangat populer. Mungkin setanding dengan Mantiq al Tayr / Musyawarah Burung (Fariduddin al-Atthar) dan Matsnawi-i (Jalaludin Rumi)

Akhir kata suka sgt3 dgn kitab nie.. MySpace

Tiada Respons to “Gulistan”

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: